Jumat, 17 Agustus 2012

Renungan 17 Agoestoes


Beberapa hari yang lalu saya pergi melayat seorang kerabat keluarga, dan seperti yang bisa diharapkan, seorang suami usia 90 tahun terpukul atas meninggalnya si istri.

Sebentar-sebentar beliau menangis, jalannya lebih lamban daripada hari biasanya walaupun dengan kondisi kesehatan yang sama. Dari cerita keluarga, waktu pulang di rumah kebanyakan si suami menangis; biasa makan berdua jadi liat meja makan nangis, liat ranjang tempat mereka tidur – nangis lagi, masuk kamar mandi – nangis lagi – karena si suami kena stroke jadi harus dimandikan oleh si almarhumah istri.

Cukup mengagetkan karena si suami dari muda terkenal sebagai pedagang yang garang, dalam arti yang sesungguhnya karena beliau terkenal banyak jual – beli barang gelap (curian, sitaan, rampokan, palsu, dsbnya). Buktinya, salah satu rombongan yang hadir melayat memakai berseragam aparat.

Sementara itu di meja pengunjung, kita memberikan ucapan selamat kepada seorang encek usia 82 tahun yang jalannya juga sudah pelan. Begini ceritanya.

Si encek ini istrinya sudah lama meninggal, dan sejak anak-anaknya dewasa dan berkeluarga, si encek ini malah tinggal sendirian di rumah. Ada rasa kecewa karena anak-anaknya sibuk dengan urusan mereka dan hampir sama sekali meninggalkan si encek diurus oleh pembantu, beranggapan bahwa bapaknya bisa ngurus diri sendiri.

Tapi nasib bicara lain. Beberapa waktu yang lalu, si encek bertemu dengan seorang perempuan yang lebih muda 40 tahun. Awalnya biasa saja, tapi lama-kelamanan mereka saling jatuh hati lalu menikah secara sederhana.

Beberapa minggu lalu, seorang tetangga ditelpon sama si encek, “Lo tau dokter kandungan yang bagus ga?” tanya si encek. Spontan langsung dikasihtau, “Mungkin anaknya si encek ada masalah kandungan kali” begitu pikir si tetangga dan kejadian itu lewat begitu aja.

Semalam, kita baru tahu kalau ternyata istri si encek hamil sudah 4 bulan! Seorang tetangga rumah bahkan yakin kalau anaknya si encek pasti laki-laki. Respon si encek? “Kalau betuk nanti anaknya jantan, kita akan gelar pesta kenduri!”

Si encek tersebut, jalannya pelan tapi wajahnya melihat lurus ke depan dengan tersenyum. Sorot matanya menunjukkan bahwa dia masih mau hidup setidaknya 20 tahun lagi.

Ok, gaya penulisan ceritanya mungkin berlebihan tapi saya bukannya mengada-ngada. Faktanya memang demikian.

Saya jadi belajar bahwa setiap fase kehidupan memiliki suka duka yang berbeda-beda. Apa yang membuat kita bahagia di tahapan usia tertentu mungkin tidak ada lagi saat kita masuk ke fase usia yang lain. Kita bisa bersedih, atau bisa juga menerima bahwa segala sesuatunya berubah tapi bukan berarti kita tidak bisa bahagia.

Tulisan saya ini bukannya mengajarkan atau - yang lebih parah – menganjurkan bahwa bapak-bapak berumur 80 tahun harus kawin 2x untuk bahagia. Tapi kalau anda single, (kebetulan) berusia 80 tahun, sehat jasmani – rohani (setidaknya masih bisa kencing normal sendiri dan masih ingat apa menu sarapan hari ini), rekening bank sejumlah 9 digit atau lebih, dan bertanya-tanya “Bagaimana saya bisa bahagia lagi?”; mungkin tidak ada salahnya kalau 'kawin lagi' masuk dalam pertimbangan anda.

Salam merdeka!


Djakarta, 17 Agoestoes 2012

Sumber: anonim

-----

 

Jumat, 10 Agustus 2012

Jeritan Zaenuddin


Jeritan Zaenuddin, supir pribadi Dahlan Iskan

 
‎”Saat itu waktu sudah menunjukan lewat jam 12 malam, namun mobil yang saya kendarai masih harus berjuang menembus jalan sempit yang diselimuti kegelapan malam pedalaman Jawa Barat.”
“Sambil mengemudi, saya lihat melalui kaca spion Bapak sedang tertidur di kursi tengah. Sepertinya dingin angin malam yang berhembus melewati celah kecil jendela mobil yang dibuka mampu meninabobokan Bapak.

Memang sebelumnya Bapak meminta agar AC mobil dimatikan saja untuk menghemat pemakaian BBM, toh udara malam pegunungan Jawa Barat yang berhembus ke dalam mobil sudah lebih dari cukup untuk mendinginkan suhu kabin mobil yang kami tumpangi.”
“Bapak memang harus pintar-pintar mencari celah waktu untuk beristirahat. Hari ini saja, sudah enam agenda kerja yang Bapak selesaikan di enam tempat yang berbeda. Perjalanan menuju tempat kegiatan ketujuh ini Bapak gunakan untuk tidur. 

Kalau Bapak memilih tidur beristirahat selama perjalanan, maka biasanya saya memilih beristirahat tidur di mobil sambil menunggu Bapak menyelesaikan kegiatannya.
Berbeda dengan majikan-majikan lain yang segera menelepon sopirnya masing-masing memberi perintah untuk merapat menjemput, maka Bapak lebih sering berkeliling tempat parkir mencari mobilnya. Setelah ketemu, dengan tenang bapak akan membangunkan saya sambil bertanya apakan saya masih mengantuk. Jika saya masih mengantuk, dengan senang hati Bapak akan mengambil alih kemudi mobil. Tidak jarang Bapak malah yang menyupiri saya.” 

“Di kegelapan malam itu mobil terpaksa saya pacu lebih kencang larinya karena harus mendaki sebuah tanjakan yang sangat terjal. Ketika mobil sedang mendaki dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba jalan berbelok tajam ke kiri. Kecepatan mobil terlalu cepat untuk berbelok tajam secara mendadak! Bila dipaksakan juga, bisa-bisa mobil akan terguling!!! Secara reflek segera saya injak pedal rem dalam-dalam!!! Decitan suara ban bergesekan dengan tanah melengking memecah kesunyian malam mengalahkan takbir yang saya teriakan dalam kepanikan saya”. 
“Mobil Alphard yang saya kendarai mengayun keras karena direm secara mendadak, tubuh saya pasti terhempas keras menghantam kemudi bila tidak tertahan sabuk pengaman yang mencengkram erat pinggang dan pundak saya”.
“Jantung berdebar kencang… Segera saya melirik kaca spion melihat keadaan Bapak yang tadi tertidur di kursi penumpang belakang…. Jantung yang tadinya berdebar kencang mendadak sontak terhenti ketika saya lihat semua kursi penumpang dalam keadaan kosong… Di mana Bapak??!!”. 
 
“Abaaaaah!!!
Tidak sadar saya berteriak panik memanggil bos besar saya sambil mencari keberadaannya.”
“Terbayang hukuman keras macam apa yang akan mendera saya apabila sampai ada sesuatu yang menimpa Bapak akibat kesalahan dan keteledoran saya. 

Bapak dikenal luas sebagai pimpinan yang tegas dan keras. Jangankan karyawan kecil seperti saya, direktur petinggi perusahaan yang dulu Bapak pimpin pun tidak luput dari pemecatan sekaligus dilaporkan ke Kepolisian ketika ketahuan menyalah gunakan wewenang. Bahkan adik kandung kesayangannya pun Bapak pecat tanpa pesangon karena tidak bisa memenuhi standar kerja yang Bapak terapkan. 


Namun apapun hukumannya, seberat apa pun itu, tidak akan mampu mengalahkan perasaan bersalah saya sendiri.
Saya tidak akan mungkin mengampuni dan memaafkan diri saya sendiri apabila sampai terjadi sesuatu menimpa Bapak karena kelalaian saya… Apalagi jika Bapak sampai…”
“….ABAAAAAAH !!! Teriakan keras saya seakan menggambarkan kepanikan, ketakutan, sekaligus penyesalan saya”. 
“Tiba-tiba terdengar suara tanpa terlihat dari mana sumbernya… Sudah, sudah, tenang, tenang, anda tenang saja. Saya tidak kenapa-napa kok, ini saya cuma jatuh dari kursi saja. Ga kenapa-napa… Begitu suara yang saya dengar.”
Saya melihat ke bawah, Bapak tampak ngejoprak di lantai mobil tertutup jaket, baju, dan kertas-kertas yang bertebaran”. 
“Bapak berkata lagi… Anda tenang saja, saya tidak apa-apa… Anda tidak salah, saya yang salah… Saya minta maaf karena tadi saya tertidur dan saya tidak pakai seatbelt… Saya yang salah, saya minta maaf… Maaf sudah membuat anda panik…” 
“Ingin rasanya saya menangis… Belum sempat saya meminta maaf, malah Bapak yang duluan minta maaf… Sesak rasanya dada saya dipenuhi rasa kagum dan syukur mengetahui kebesaran jiwa majikan saya yang satu ini. 
  
Tidak heran sampai dini hari ini ada puluhan “bawahannya” yang setia menanti kedatangan Bapak sampai jam 1 pagi hanya untuk memperlihatkan secara langsung hasil kerja mereka kepada Bapak.
Tidak heran jutaan orang mengelu-elukan dan meneriakan dukungan kepada Bapak kemanapun Bapak berkunjung.”
 
(Zaenudin, Supir Pribadi Dahlan Iskan)
   

Jumat, 08 Juni 2012

Pengajaran Confusius

Alkisah :

Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yg suka belajar, sifatnya baik.  Pada
suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang
dikerumuni banyak orang.  Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat

Pembeli berteriak: "3 x 8 = 23, kenapa kamu bilang 24?

Yan Hui mendekat pembeli kain dan berkata:"Sobat, 3 x 8 = 24, tidak usah diperde-
batkan lagi".  Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata:
"Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius.
Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan" 

Yan Hui: "Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?"

Pembeli kain: "Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu.

Kalau kamu yang salah, bagaimana?"  Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku
untukmu". 

Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius.

Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui
sambil tertawa: "3 x 8 = 23.  Yan Hui, kamu kalah.  Kasihkan jabatanmu
kepada dia."  Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya.  Ketika
mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan
kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan
puas. 

Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak
sependapat.  Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau
lagi berlajar darinya.  Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. 
Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.

Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali
setelah urusannya selesai dan memberi Yan Hui dua nasehat: "Bila hujan lebat,
janganlah berteduh dibawah pohon.  Dan jangan membunuh." 
Yan Hui bilang, baiklah, lalu berangkat pulang. 

Di dalam perjalanan, tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah
mau turun hujan lebat.  Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2
ingat nasihat Confusiun dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya
sekali lagi.  Dia meninggalkan pohon itu.

Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur.  Yan Hui terkejut
nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti. Apakah saya akan membunuh
orang?

... Apakah saya akan membunuh orang?
Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur
istrinya.  Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. 
Sesampai di depan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seseorang di sisi
kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan.  Dia sangat marah dan mau
menghunus pedangnya.  Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat
lagi nasehat Confusius, Jangan Membunuh.  Dia lalu menyalakan lilin dan
ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berltut dan berkata:
"Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?" 

Confusius berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun
hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah
pohon.  Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang maka
guru mengingatkanmu agar jangan membunuh".

Yan Hui berkat: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum."

Confusius bilang: "Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. 
Kamu tidak ingin belajar lagi dariku.  Cobalah kamu pikir.  Kemarin guru bilang
3 x 8 = 23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. 
Tapi jikalau guru bilang 3 x 8 = 24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah
dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau
kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?"

Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata: "Guru, mementingkan yang lebih
utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun.  Murid benar-benar malu." 
Sejak itu kemanapun Confusius pergi, Yan Hui selalu mengikutinya.


Cerita ini mengingatkan kita:

Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan
kamu, apalah artinya.  Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa
yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu
yang lebih penting. 

Banyak hal ada kadar kepentingannya. 
Janganlah gara-gara bertaruh mati-matian untuk prinsip kebenaran itu, tapi
akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat. 

Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. 
Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.

Bersikeras melawan pelanggan.  Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
(Saat kita kasih sample barang lagi, kita akan mengerti)

Bersikeras melawan boss.  Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
(Saat penilaian bonus akhir tahun, kita akan mengerti)

Bersikeras melawan suami.  Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
(Suami tidak betah di rumah)

Bersikeras melawan teman.  Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
(Bisa-bisa kita kehilangan seorang teman)



===== OOOOO =====


Selasa, 20 Maret 2012

Warren Buffet memberi nasehat


"Jauhkan dirimu dari pinjaman bank atau kartu kredit dan berinvestasilah dengan apa yg kau miliki.

Serta ingat . . .


01. Uang TIDAK menciptakan manusia, manusialah yang menciptakan uang.

02. Hiduplah sederhana sebagaimana dirimu sendiri.

03. Jangan melakukan apapun yang dikatakan orang, dengarkan mereka, tapi lakukan apa yang baik saja.

04. Jangan memakai barang-barang bermerk tersohor, pakailah yang benar nyaman untuk dirimu.

05. Jangan habiskan uang untuk hal-hal yang tidak benar-benar penting.

06. With money:

You can buy a house, but not a home.
You can buy a clock, but not time.
You can buy a bed, but not sleep.
You can buy a book, but not knowledge.
You can get a position, but not respect.
You can buy blood, but not life.

So find your happiness inside you.


07. Jika hal-hal tersebut diatas telah berhasil kamu lakukan dalam hidupmu, berbagilah dan ajarkanlah pada orang lain.






"Orang Yang Berbahagia Bukanlah
Orang Yang Hebat Dalam Segala Hal,

Tapi Orang Yang Bisa Menemukan Hal Sederhana
Dalam Hidupnya dan Mengucap Syukur Selalu . . .
"


Rabu, 01 Februari 2012

Think BIG

Ben Carson dikenal sebagai ahli bedah saraf dunia yang hebat. Padahal peraih penghargaan The Presidential Medal of Freedom 2008 dari Presiden AS ini waktu kecil dikenal sebagai anak miskin dan bodoh.

Suatu kali ibunya menyadarkannya bahwa ia sebenarnya bukan anak bodoh hanya kurang belajar. Maka sang ibu menekannya agar ia banyak membaca buku baik buku pelajaran maupun buku lainnya. Meski mereka miskin dan tak mampu beli banyak buku, ibunya meminjam buku-buku dari perpustakaan umum untuk dipelajari Ben. "Dalam kondisi miskin kita tak akan punya kesempatan untuk pergi ke mana-mana. Namun dengan buku kita bisa pergi ke mana pun kita mau, bisa jadi orang seperti apapun, dan bisa melakukan apapun yang kita inginkan," tutur ibunya.

Berkat disiplin yang ditanamkan ibunya itu akhirnya Ben sukses jadi ahli bedah saraf dunia. Ia berbagi kiat suksesnya dalam sejumlah buku, salah satunya Think Big. Selalu berpikir besar (Think Big) inilah yang mendorongnya jadi orang sukses.

Tapi sebenarnya apa Think Big menurut Carson? Ia punya rumusan singkat, bahwa Think Big terdiri dari 8 kunci sukses yang diurai dari delapan huruf (T-H-I-N-K-B-I-G)

T - berati talent (bakat) atau time (waktu). Kenalilah bahwa waktu dan bakat adalah
     hadiah dari Tuhan.

H - adalah "hope", harapan untuk hal-hal yang baik dan jujur (honest).

I - adalan "Insight", wawasan yang diperoleh dari orang atau buku-buku bagus.

N - adalah "to be Nice to all people", berbuat baiklah pada semua orang.

K - adalah "knowledge" (ilmu pengetahuan), kenalilah ilmu pengetahuan sebagai
     kunci kehidupan.

B - adalah "book" (buku), bacalah buku sebanyak-banyaknya.

I - "In-dept", belajar dan perdalamlah keterampilan.

G - adalah "God", Tuhan. Semua orang punya Tuhan. Jangan lupa pada Tuhan.

Ia menyimpulkan semua itu dari pelajaran diberikan ibunya. "Ketika saya sedang belajar ibu saya selalu bilang, ‘Kamu bisa melakukan apa saja yang orang lain lakukan, hanya saja kamu harus melakukannya dengan lebih baik', katanya

Rabu, 06 Juli 2011

Untuk Lebih Sukses

Joko dan Edi sama-sama diterima di sebuah perusahaan distribusi FMCG sebagai salesman setelah lulus. Mereka berdua bekerja keras.Dua tahun kemudian bos Chandra mengangkat Edi menjadi Sales Supervisor sedangkan Joko tetap saja menjadi Salesman. Suatu hari Joko tidak tahan lagi dan mengajukan pengunduran dirinya kepada bos Chandra. Alasan Joko perusahaan ini tidak memperhatikan orang yang bekerja keras, hanya orang yang pandai menjilat bos saja yang bisa naik.

Bos Chandra tau bahwa Joko pekerja keras tetapi untuk menyadarkan Joko apa beda dia dengan Edi maka ia memberikan satu tugas kepada Joko. Ia meminta Joko untuk menemukan seorang pedagang semangka di pasar dekat kantor. Saat Joko kembali, bos Chandra bertanya: “Sudah kau temukan Jok?” “Sudah pak” jawab Joko. “Berapa harga semangkanya?” tanya Bos Chandra. Joko pergi ke pasar lagi untuk menanyakan harga semangka lalu kembali menghadap bos Chandra dan berkata: “ Rp 1000 per kg pak.”

Bos Chandra berkata kepada Joko bahwa sekarang dia akan memberi perintah yang sama kepada Edi. Edi ke pasar dan setelah kembali menghadap ke bos Chandra. Edi lapor kepada bos Chandra: “Di pasar hanya ada 1 pedagang semangka, harga semangka Rp 1000 per kg, kalau beli 100 kg hanya Rp 800 per kg nya,- ia mempunyai stok 324 biji, yang 32 dipajang di counternya. Semangka didatangkan dari Indramayu 2 hari yang lalu, warnanya hijau segar dan isinya merah jingga, kualitasnya bagus.”

Joko sangat terkesan dengan laporan Edi dan memutuskan untuk tidak jadi mengundurkan diri tetapi akan belajar lebih banyak dari Edi.

Morale of the story :
Bekerja lebih keras saja tidak cukup.
→ Seorang yang lebih sukses meneliti lebih banyak, berpikir lebih banyak dan mengerti lebih mendalam.
→ Untuk alasan yang sama seorang yang lebih sukses melihat beberapa tahun ke depan sedangkan anda hanya melihat esok hari saja.
→ Perbedaan antara 1 hari dan 1 tahun adalah 365 kali lipat.

Sabtu, 19 Maret 2011

Gambaru


· Bacalah dengan hati !

Kiriman seorang teman

Say YES to GAMBARU!

by Rouli Esther Pasaribu on Monday, March 14, 2011 at 10:02 AM

Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan. Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup selalu : motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama), motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih dan lebih lagi). Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru.

Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya... berhenti aja. Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya :

"doko made mo nintai shite doryoku suru" (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan)

Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter "keras" dan "mengencangkan". Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah "mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu" (maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.).

Terus terang aja, dua tahun gw di jepang, dua tahun juga gw ngga ngerti, kenapa orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya. Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di sekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar ngga manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan, sakit2 dikit cuma ingus meler2 atau demam 37 derajat mah ngga usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri. Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan gw ngos2an kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! mama faitoooo! (mama ayo berjuang, mama ayo fight!). Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah penghabisan it's a must!

Gw bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan 9.0 di jepang bagian timur. Gw tau, bencana alam di indonesia seperti tsunami di aceh, nias dan sekitarnya, gempa bumi di padang, letusan gunung merapi....juga bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi. Tapi, tsunami dan gempa bumi di jepang kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia.

Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat jepang panik kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian mulai ngerasa galau, nangis2, ga tau mesti ngapain. Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa "dimaafkan" jika stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan. Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan.

Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini? Dari hari pertama bencana, gw nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala ebiet diputar di stasiun TV. Nyari-nyari juga di mana rekening dompet bencana alam. Video klip tangisan anak negeri juga gw tunggu2in. Tiga unsur itu (lagu ala ebiet, rekening dompet bencana, video klip tangisan anak negeri), sama sekali ngga disiarkan di TV. Jadi yang ada apaan dong?

Ini yang gw lihat di stasiun2 TV :
1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada

2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)

3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik terencana

4. Tips-tips menghadapi bencana alam
5. nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam

6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang terkena bencana

7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai banget harganya)

8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi (government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati

9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :

*ada yang nyari istrinya, belum ketemu2, mukanya udah galau banget, tapi tetap tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat pengungsian : gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)

*Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu, kita mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana ini; Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas.

Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana ala gambaru kayak gini, gw bener-bener merasa malu dan di saat yang bersamaan : kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang. Ini negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas banget, negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya mental sekuat baja, karena : falsafah gambaru-nya itu. Bisa dibilang, orang-orang jepang ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan dalam hidup.

Bener banget, kita mesti berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan. Hanya, mental yang apa-apa "nyalahin" Tuhan, bilang2 ini semua kehendakNya, Tuhan marah pada umatNya, Tuhan marah melalui alam maka tanyalah pada rumput yang bergoyang.....I guarantee you 100 percent, selama masih mental ini yang berdiam di dalam diri kita, sampai kiamat sekalipun, gw rasa bangsa kita ngga akan bisa maju. kalau ditilik lebih jauh, "menyalahkan" Tuhan atas semua bencana dan persoalan hidup, sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani bertanggungjawab terhadap hidup yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup. Jika diperjelas lagi, ngga berani bertanggungjawab itu maksudnya : lari dari masalah, ngga mau ngadepin masalah, main salah2an, ngga mau berjuang dan baru ketemu sedikit rintangan aja udah nangis manja.

Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan, untuk apa gw menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada gunanya, kalo mau S2 atau S3 mah, ya di eropa atau amerika sekalian, kalo di Jepang mah nanggung. Begitulah kata beliau. Sempat terpikir juga akan perkataannya itu, iya ya, kalo mau go international ya mestinya ke amrik atau eropa sekalian, bukannya jepang ini. Toh sama-sama asia, negeri kecil pula dan kalo ga bisa bahasa jepang, ngga akan bisa survive di sini. Sampai sempat nyesal juga,kenapa gw ngedaleminnya sastra jepang dan bukan sastra inggris atau sastra barat lainnya.

Tapi sekarang, gw bisa bilang dengan yakin sama sanak keluarga yang menyatakan ngga ada gunanya gw nuntut ilmu di jepang. Pernyataan beliau adalah salah sepenuhnya. Mental gambaru itu yang paling megang adalah jepang. Dan menjadikan mental gambaru sebagai way of life adalah lebih berharga daripada go international dan sejenisnya itu. Benar, sastra jepang, gender dan sejenisnya itu, bisa dipelajari di mana saja. Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap berjuang abis-abisan biar udah ngga ada jalan, gw rasa, salah satu tempat yang ideal untuk memahami semua itu adalah di jepang. Dan gw bersyukur ada di sini, saat ini.

Maka, mulai hari ini, jika gw mendengar kata gambaru, entah di kampus, di mall, di iklan-iklan TV, di supermarket, di sekolahnya joanna atau di mana pun itu, gw tidak akan lagi merasa muak jiwa raga. Sebaliknya, gw akan berucap dengan rendah hati : Indonesia jin no watashi ni gambaru no seishin to imi wo oshietekudasatte, kokoro kara kansha itashimasu. Nihon jin no minasan no yoo ni, gambaru seishin wo mi ni tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu. (Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia. Saya akan berjuang tiap hari, agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian semuanya, orang-orang Jepang).


Share the happiness