Senin, 25 Februari 2013
Kamis, 31 Januari 2013
2 Batu Bata
Setelah Jemaat kami membeli tanah untuk Gereja kami + pastori (tempat tinggal Pendeta) di tahun 1963, kami kehabisan uang ; belum ada bangunan diatas tanah, gubuk pun tidak.
Pada
minggu-minggu pertama, kami (saya sebagai calon Pendeta dan rekan
Pendeta) tidur diatas pintu tua yang dibeli dengan harga murah dari
tukang loak, kami menumpukkan batu bata disetiap sudutnya untuk
meninggikan posisinya dari atas tanah sebagai alas tidur tanpa kasur.
Untuk
Pendeta, ia mendapat pintu yang terbaik, yang rata, pintu untuk saya
bergelombang dengan lubang ditengahnya tempat pegangan pintu.
Saya senang karena pegangan pintunya sudah dicopot, tapi itu meninggalkan sebuah lubang di tengah-tengah pintu.
Namun sejujurnya, angin dingin masuk melalui lubang tersebut, saya tidak dapat tidur beberapa malam itu.
Gereja kami
hanyalah gereja kecil di daerah terpencil, kami tidak bisa membayar
tukang , bahan bangunan sudah cukup mahal bagi kami.
Jadi saya belajar untuk bertukang, bagaimana menyiapkan fondasi, membuat tembok dari batu bata dan membangun atap.
Saya dulunya adalah guru SMU sewaktu masih umat awam, tidak terbiasa kerja kasar.
Setelah
beberapa tahun, saya sudah cukup mahir untuk bertukang ; tapi saat saya
memulainya, pekerjaan itu dirasakan sangat sulit.
Kelihatannya sangat mudah untuk menembok dengan batu bata, seonggok semen dibawah, ketok sini ketok sana.
Sewaktu saya
mencoba untuk melakukannya, saya ketok satu sisi untuk meratakannya,
sisi yang lainnya jadi menaik, lalu saya ketok sisi tersebut, batu
batanya tidak lagi lurus ; setelah saya ratakan kembali, sisi yang
pertama kembali menjadi terlalu tinggi, wah…..ternyata tidaklah mudah…….
Walaupun pekerjaan itu sulit bagi saya, namun saya berupaya untuk memastikan bahwa setiap batu bata terpasang dengan sempurna, tidak perduli berapa lamanya saya bekerja.
Walaupun pekerjaan itu sulit bagi saya, namun saya berupaya untuk memastikan bahwa setiap batu bata terpasang dengan sempurna, tidak perduli berapa lamanya saya bekerja.
Akhirnya saya menyelesaikan suatu bagian tembok yang pertama dan saya berdiri didepannya untuk mengaguminya.
Saat itulah saya menyadari, ada dua buah batu bata yang pemasangannya kurang baik.
Semua batu bata terpasang sempurna dengan lurus, tapi yang dua itu terpasang miring, kelihatannya sangat jelek dan merusak pemandangan keseluruhan tembok.
Namun saat itu, semuanya sudah mengeras, tidak bisa lagi mencabut dua batu bata tersebut ; maka saya bertanya kepada Pendeta Gereja, apakah saya bisa merobohkan saja dinding tersebut dan memulainya dari awal lagi, kalau perlu meledakkannya, karena saya telah membuat kesalahan dan itu sangat mengecewakan ; namun Pendeta Gereja berkata itu tidak perlu, biarkan saja………
Namun saat itu, semuanya sudah mengeras, tidak bisa lagi mencabut dua batu bata tersebut ; maka saya bertanya kepada Pendeta Gereja, apakah saya bisa merobohkan saja dinding tersebut dan memulainya dari awal lagi, kalau perlu meledakkannya, karena saya telah membuat kesalahan dan itu sangat mengecewakan ; namun Pendeta Gereja berkata itu tidak perlu, biarkan saja………
Sewaktu saya mengajak beberapa Jemaat yang pertama-tama untuk melihat-lihat pembangunan gereja, saya selalu berusaha mencoba menghindarkan mereka untuk melihat tembok yang satu itu, karena saya tidak suka orang melihat kejelekannya.
Pada suatu
hari, sekitar tiga atau empat bulan setelah saya membuat tembok
tersebut, saya mengantarkan seorang pengunjung ; dan katanya, "Tembok
yang indah", katanya dengan santai.
"Pak, saya menjawab dengan kaget ;
"Pak, saya menjawab dengan kaget ;
"Tidakkah anda melihat dua batu bata yang pemasangannya tidak baik dan itu merusak keseluruhan bentuk dari tembok itu ?"
Apa yang
dikatakannya kemudian, mengubah sudut pandang saya secara keseluruhan
mengenai tembok itu ; mengenai diri saya dan mengenai berbagai aspek
lainnya tentang kehidupan.
Dia berkata ;
Dia berkata ;
"Ya, saya
bisa melihat dua buah batu bata miring itu ; tapi saya juga melihat 998
batu bata lainnya yang terpasang dengan sempurna disini."
Saya
tersadar, untuk pertama kalinya dalam tiga bulan ini, saya bisa melihat
batu bata yang lain, selain dua batu bata tersebut ; suatu rangkaian
batu bata yang terpasang dengan baik dan sempurna.
Sebelumnya……, mata saya hanya terfokus pada dua kesalahan tadi, saya menjadi buta terhadap hal-hal lainnya, itulah sebabnya mengapa saya tidak tahan melihat tembok itu, itulah sebabnya mengapa saya ingin menghancurkannya.
Sebelumnya……, mata saya hanya terfokus pada dua kesalahan tadi, saya menjadi buta terhadap hal-hal lainnya, itulah sebabnya mengapa saya tidak tahan melihat tembok itu, itulah sebabnya mengapa saya ingin menghancurkannya.
Sekarang saya dapat melihat bata bata lain yang terpasang dengan sangat baik.
Buktinya, seorang pengunjung mengatakan bahwa tembok itu sangat indah.
Dan tembok itu masih disana sampai sekarang, setelah 20 tahun kemudian………
Dan tembok itu masih disana sampai sekarang, setelah 20 tahun kemudian………
Tapi saya sudah lupa dimana tepatnya dua buah batu bata yang terpasang miring itu, saya benar-benar tidak dapat melihatnya lagi.
Beberapa orang mengakhiri hubungan kasih mereka atau bahkan bercerai karena apa yang mereka lihat pada pasangannya hanyalah dua buah batu bata yang jelek.
Berapa banyak orang yang menjadi depresi bahkan melakukan bunuh diri, karena apa yang bisa mereka lihat pada dirinya hanyalah dua buah batu bata yang jelek.
Sebenarnya ada banyak, banyak sekali batu bata yang terpasang dengan sempurna, tapi seringkali kita tidak bisa melihatnya.
Beberapa orang mengakhiri hubungan kasih mereka atau bahkan bercerai karena apa yang mereka lihat pada pasangannya hanyalah dua buah batu bata yang jelek.
Berapa banyak orang yang menjadi depresi bahkan melakukan bunuh diri, karena apa yang bisa mereka lihat pada dirinya hanyalah dua buah batu bata yang jelek.
Sebenarnya ada banyak, banyak sekali batu bata yang terpasang dengan sempurna, tapi seringkali kita tidak bisa melihatnya.
Setiap kali
kita memandang, kita hanya terfokus pada kesalahan, hanya kesalahan yang
terlihat dan kita merasa hanya kesalahan yang ada, maka kita ingin
untuk merobohkannya bahkan menghancurkannya.
Dan kadang, sangatlah menyedihkan ; kita benar-benar menghancurkan tembok yang indah tersebut.
Dan kadang, sangatlah menyedihkan ; kita benar-benar menghancurkan tembok yang indah tersebut.
Kita semua
memiliki dua buah batu bata yang jelek, tapi batu bata yang terpasang
sempurna di diri kita jauh lebih banyak lagi……..
“Mengucap syukurlah dalam segala hal ; karena apa yang Tuhan beri itu semuanya baik“
Good morning ; have a blessed day…… !
Kamis, 24 Januari 2013
Dalai Lama

Terjemahan bebas:
Dalai Lama ketika ditanya apakah yang membuatnya
paling heran tentang manusia.
Seorang Laki2.
Dia mengorbankan kesehatannya untuk mencari uang.
Lalu mengorbankan uangnya untuk mendapatkan
kembali kesehatannya.
Lalu dia begitu tertarik akan masa depan sehingga
tidak menikmati kehidupan nya saat ini; akibatnya
dia tidak hidup pada keadaan saat ini ataupun
pada keadaan masa depan; dia hidup seakan-akan
tidak pernah akan mati, kemudian mati tanpa benar2
merasakan kehidupan.
Semoga bermanfat
Sabtu, 19 Januari 2013
Pasutri Luar Biasa Sean & Jung Hye Young
Awal Januari 2013 TV KBS (Korea) dalam acara "Win Win" (English subtitle) menampilkan bintang tamu pasutri muda Sean dan aktris Jung Hye Young yang telah 12 thn menikah dan dikarunia 4 orang anak (yang bungsu 2.5 thn).
Berikut ini beberapa catatan penting dari acara "talk show" tsb.
1. Pada saat pertama kali Sean berjumpa dengan Hye Young,
ia langsung "jatuh cinta pada pandangan pertama" dan merasakan bahwa Hye Young adalah
calon pasangan hidupnya. Saat itu Sean adalah penyanyi grup band yang sedang
mempersiapkan peluncuran album ke 3 nya dan Hye Young belum menjadi aktris.
Awalnya Hye Young tidak menyukai Sean yang merupakan selebriti yang umumnya menjadi
sorotan media, tetapi Sean berkomitmen melepaskan profesinya sebagai penyanyi grup band
agar dapat mempersunting Hye Young. Sungguh suatu keputusan yang tak mudah dilakukan
bagi seorang selebriti yang karirnya sedang menanjak.
2. Sekarang ini Sean menjalankan bisnis "Toserba Online" dan menjadi Motivator untuk perusahaan,
sedangkan Hye Young adalah bintang iklan, sinetron dan film (segera beredar).
3. Pasutri Sean & Hye Young menjadi orang tua asuh untuk 800 anak yatim piatu (100 di
Korsel, 500 di Korut dan 200 di dunia). Sean punya arsip data untuk setiap anak asuhnya.
Pasutri ini juga donatur untuk biaya operasi anak2 cacad. Hasil honor Hye Young sebagai
bintang iklan di sumbangkan untuk anak2 yg kurang beruntung (meski awalnya Hye Young
sempat ragu atas ide Sean tsb). Sean pernah ikut lomba triathlon sepanjang 5102 m),
untuk setiap meter dia mendapat 10$ dari para sponsor dan seluruh hasilnya disumbangkan
untuk anak2 yang kurang beruntung.
Pasutri ini tidak pernah membuat pesta ulang tahun perkawinan atau anak2 mereka, dana
untuk keperluan tsb. juga disumbangkan a/n Hye Young atau a/n anak2 mereka.
Dan Sean mengajak ke 2 anaknya yg paling besar ke RS untuk melihat pasca operasi
anak2 yang mereka sumbangkan a/n anak mereka.
4. Saat ini Sean punya proyek untuk menghimpun dana untuk mendirikan RS khusus
untuk anak2 cacad (Pertama di Korea bila terwujud), ia menghimbau para selebriti
dan relasi lainnya untuk menyisihkan sebagian dari penghasilan mereka
setiap bulan dan mentransfernya ke rek. proyek tsb.
5. Pasutri Sean & Hye Young sekeluarga tinggal di rumah yang mereka sewa, bukan
milik pribadi, ketika ditanya apakah tidak ada keinginan untuk punya rumah pribadi,
Hye Young menjawab awalnya memang ada dan dia coba menghitung berapa besar
uang yang perlu disisihkan per bulan untuk bisa membayar uang mukanya. Tetapi setelah
pulang dari Filipina untuk menyerahkan bantuan bagi 7 orang anak serta melihat kondisi
tempat tinggal anak2 tsb, mereka mengambil keputusan untuk tetap tinggal dirumah yang
mereka sewa saat ini dan mengalihkan uang yang telah mereka sisihkan menjadi
sumbangan untuk anak2 yang membutuhkannya.
6. Ketika ditanya apakah selama mereka menikah sering ada pertengkaran antara Hye Young
dan Sean? Hye Young menjawab tidak pernah ada sepanjang usia perkawinan mereka,
dia tidak tega untuk berkata kasar atau marah2 kepada Sean bila tak sepaham, demikian
pula dengan Sean. Padahal pribadi keduanya sangat berbeda, Hye Young lebih menyukai
masakan Korea sedangkan Sean lebih menyukai masakan Eropa, Hye Young punya tempo
"fast" (buru2) sedangkan Sean punya tempo "slow".
7. Ketika ditanyakan apakah prinsip / kiat2 hidup dari Sean, Sean mengatakan bahwa ia
sekeluarga sangat bahagia selama ini dan ingin membagi kebahagian ini kepada anak2
yang kurang beruntung.
Dia berusaha berpikir bahwa "hari ini adalah hari terakhir dari kehidupanya" dia berusaha
mencintai Hye Young dan anak2 nya lebih baik lagi daripada kemarin dan berusaha
menyelesaikan hal2 terbaik yang dapat diselesaikan hari ini dari sisa hidupnya yang terakhir.
8. Ke 3 pembawa acara mengatakan mereka kehabisan kata2 dan meminta Hye Young
memberikan kata2 penutup kepada Sean dihadapan seluruh pemirsa.
Kata2 penutup Hye Young adalah sbb.: "Sayangku, aku sangat berterima kasih dan bahagia,
aku yang dulunya serupa sebuah batu cadas (rock) telah kau rubah menjadi sebuah
intan (diamond), aku sangat mencintaimu".
Semoga sekilas catatan tersebut diatas bermanfaat bagi kita semua.
More better today than yesterday Berikut ini beberapa catatan penting dari acara "talk show" tsb.
1. Pada saat pertama kali Sean berjumpa dengan Hye Young,
ia langsung "jatuh cinta pada pandangan pertama" dan merasakan bahwa Hye Young adalah
calon pasangan hidupnya. Saat itu Sean adalah penyanyi grup band yang sedang
mempersiapkan peluncuran album ke 3 nya dan Hye Young belum menjadi aktris.
Awalnya Hye Young tidak menyukai Sean yang merupakan selebriti yang umumnya menjadi
sorotan media, tetapi Sean berkomitmen melepaskan profesinya sebagai penyanyi grup band
agar dapat mempersunting Hye Young. Sungguh suatu keputusan yang tak mudah dilakukan
bagi seorang selebriti yang karirnya sedang menanjak.
2. Sekarang ini Sean menjalankan bisnis "Toserba Online" dan menjadi Motivator untuk perusahaan,
sedangkan Hye Young adalah bintang iklan, sinetron dan film (segera beredar).
3. Pasutri Sean & Hye Young menjadi orang tua asuh untuk 800 anak yatim piatu (100 di
Korsel, 500 di Korut dan 200 di dunia). Sean punya arsip data untuk setiap anak asuhnya.
Pasutri ini juga donatur untuk biaya operasi anak2 cacad. Hasil honor Hye Young sebagai
bintang iklan di sumbangkan untuk anak2 yg kurang beruntung (meski awalnya Hye Young
sempat ragu atas ide Sean tsb). Sean pernah ikut lomba triathlon sepanjang 5102 m),
untuk setiap meter dia mendapat 10$ dari para sponsor dan seluruh hasilnya disumbangkan
untuk anak2 yang kurang beruntung.
Pasutri ini tidak pernah membuat pesta ulang tahun perkawinan atau anak2 mereka, dana
untuk keperluan tsb. juga disumbangkan a/n Hye Young atau a/n anak2 mereka.
Dan Sean mengajak ke 2 anaknya yg paling besar ke RS untuk melihat pasca operasi
anak2 yang mereka sumbangkan a/n anak mereka.
4. Saat ini Sean punya proyek untuk menghimpun dana untuk mendirikan RS khusus
untuk anak2 cacad (Pertama di Korea bila terwujud), ia menghimbau para selebriti
dan relasi lainnya untuk menyisihkan sebagian dari penghasilan mereka
setiap bulan dan mentransfernya ke rek. proyek tsb.
5. Pasutri Sean & Hye Young sekeluarga tinggal di rumah yang mereka sewa, bukan
milik pribadi, ketika ditanya apakah tidak ada keinginan untuk punya rumah pribadi,
Hye Young menjawab awalnya memang ada dan dia coba menghitung berapa besar
uang yang perlu disisihkan per bulan untuk bisa membayar uang mukanya. Tetapi setelah
pulang dari Filipina untuk menyerahkan bantuan bagi 7 orang anak serta melihat kondisi
tempat tinggal anak2 tsb, mereka mengambil keputusan untuk tetap tinggal dirumah yang
mereka sewa saat ini dan mengalihkan uang yang telah mereka sisihkan menjadi
sumbangan untuk anak2 yang membutuhkannya.
6. Ketika ditanya apakah selama mereka menikah sering ada pertengkaran antara Hye Young
dan Sean? Hye Young menjawab tidak pernah ada sepanjang usia perkawinan mereka,
dia tidak tega untuk berkata kasar atau marah2 kepada Sean bila tak sepaham, demikian
pula dengan Sean. Padahal pribadi keduanya sangat berbeda, Hye Young lebih menyukai
masakan Korea sedangkan Sean lebih menyukai masakan Eropa, Hye Young punya tempo
"fast" (buru2) sedangkan Sean punya tempo "slow".
7. Ketika ditanyakan apakah prinsip / kiat2 hidup dari Sean, Sean mengatakan bahwa ia
sekeluarga sangat bahagia selama ini dan ingin membagi kebahagian ini kepada anak2
yang kurang beruntung.
Dia berusaha berpikir bahwa "hari ini adalah hari terakhir dari kehidupanya" dia berusaha
mencintai Hye Young dan anak2 nya lebih baik lagi daripada kemarin dan berusaha
menyelesaikan hal2 terbaik yang dapat diselesaikan hari ini dari sisa hidupnya yang terakhir.
8. Ke 3 pembawa acara mengatakan mereka kehabisan kata2 dan meminta Hye Young
memberikan kata2 penutup kepada Sean dihadapan seluruh pemirsa.
Kata2 penutup Hye Young adalah sbb.: "Sayangku, aku sangat berterima kasih dan bahagia,
aku yang dulunya serupa sebuah batu cadas (rock) telah kau rubah menjadi sebuah
intan (diamond), aku sangat mencintaimu".
Semoga sekilas catatan tersebut diatas bermanfaat bagi kita semua.
WE SERVE
Agus G.
Rabu, 10 Oktober 2012
Setitik Embun Inspirasi
KETULUSAN CINTA
Robertson McQuilkin adalah seorang Rektor Universitas Internasional Columbia. Namun isterinya mengalami sakit alzheimer atau gangguan fungsi otak, sehingga ia tidak mengenali semua orang bahkan anak-anaknya, hanya satu orang yang ada dalam ingatannya, yaitu suaminya Robertson.
Karena kesibukan Robertson, maka ia menyewa seorang perawat untuk merawat dan menjaga isterinya. Namun suatu pagi alangkah herannya ia dan semua orang dikantornya, melihat Muriel isterinya datang ke kantor tanpa alas kaki dan ada bercak-bercak darah di kakinya. Ternyata Muriel bangun dari tempat tidur dan hanya dengan menggunakan daster berjalan kaki menuju kantor suaminya yang berjarak kira-kira satu kilometer dan bercak-bercak darah ada di sepanjang lantai kantor suaminya karena kakinya terantuk di jalan beberapa kali. Ketika masuk ke kantor suaminya, Muriel berkata “Saya tidak mau perawat, saya hanya mau kamu menemaniku.”
Mendengar kata-kata Muriel, Robertson mengingat janji nikahnya 47 tahun lalu, dan tidak lama kemudian ia meminta kepada pihak universitas untuk pensiun dan berhenti dari jabatannya sebagai Rektor. Pada pidato perpisahan di Universitas Internasional Columbia Robert McQuilkin menjelaskan apa yang terjadi pada isterinya dan mengapa ia mengambil keputusan untuk mengundurkan dari dari jabatannya.
Ia berkata: “47 tahun yang lalu, saya berjanji kepada Muriel dihadapan Tuhan dan disaksikan banyak orang, bahwa saya akan menerima dan selalu mencintai Muriel baik dalam suka maupun dalam duka, dalam keadaan kaya atau miskin, baik dalam keadaan sehat atau sakit.” Kemudian ia melanjutkan: “Sekarang inilah saat yang paling diperlukan oleh Muriel agar saya menjaga dan merawatnya.”
Tidak lama kemudian Muriel tidak bisa apa-apa lagi, bahkan untuk makan, mandi, serta buang air pun, ia harus dibantu oleh Robertson. Pada tanggal 14 Februari 1995 adalah hari istimewa mereka, 47 tahun lalu, dimana Robertson melamar dan kemudian menikahi Muriel. Maka seperti biasanya Robertson memandikan Muriel dan menyiapkan makan malam kesukaannya dan menjelang tidur ia mencium Muriel, menggenggam tangannya, dan berdoa, “Tuhan, jagalah kekasih hatiku ini sepanjang malam, biarlah ia mendengar nyanyian malaikat-Mu.”
Paginya, ketika Robertson sedang berolahraga dengan sepeda statis, Muriel terbangun. Ia tersenyum kepada Robertson, dan untuk pertama kali setelah berbulan-bulan Muriel tak pernah berbicara, ia memanggil Robertson dengan lembut dan berkata: “Sayangku …” Robertson terlompat dari sepeda statisnya dan memeluk Muriel. Kemudian Muriel betanya kepada suminya: “Sayangku, apakah kamu benar-benar mencintaiku?” tanya Muriel lirih, Robertson mengangguk dan tersenyum. Kemudian Muriel berkata: “Aku bahagia,” dan itulah kata-kata terakhir Muriel sebelum meninggal.
Sungguh kasih yang luar biasa. Alangkah indahnya relasi yang didasarkan pada cinta, tidak ada kepedihan yang terlalu berat untuk dipikul. Cinta adalah daya dorong yang sangat ampuh agar kita selalu melakukan yang terbaik. Menjalani kegetiran tanpa putus asa, melalui kepahitan tanpa menyerah, melewati lembah kekelaman dengan keberanian. Komitmen sejati dan cinta sejati menyatu. Cinta sejati harus memiliki komitmen sejati. Tanpa komitmen sejati, cinta akan pudar di tengah jalan, di tengah kesulitan dan penderitaan. Mari kita menumbuh kembangkan cinta kasih, untuk melandasi setiap motivasi, tindakan dan ucapan kita di mana pun dan kapan pun kita berada.
Tuhan Memberkati
Minggu, 09 September 2012
Perbaikan PT KAI 2012
DAHLAN ISKAN
Senin, 03 September 2012 , 00:51:00
HARI itu wartawan foto
berbondong ke Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Semua wartawan (he he he,
saya pun dulu begitu) sudah hafal ini: Stasiun Senen adalah objek berita
yang paling menarik di setiap menjelang Lebaran.
Tidak usah menunggu perintah redaksi, wartawan pun tahu. Ke Senen-lah
cara terbaik untuk mendapat foto terbaik (baca: foto yang menyedihkan):
antrean yang mengular, bayi yang terjepit di gendongan, orang tua yang
tidur karena kelelahan di dekat toilet, anak kecil yang dinaikkan kereta
lewat jendela, wanita yang kegencet pintu kereta, dan sejenisnya.
Menjelang Lebaran tahun ini, objek-objek yang "seksi" di mata wartawan foto itu tiba-tiba lenyap bak ditelan bumi. Tidak ada lagi desakan, impitan, gencetan, dan jenis penderitaan lain yang menarik untuk difoto. Para wartawan pun banyak yang terlihat duduk hanya menunggu momentum. Dan yang ditunggu tidak kunjung terlihat.
Maka, dengan isengnya, seorang petugas stasiun mengirimkan foto ke HP saya. Rupanya, dia baru saja memotret kejadian yang menarik: Seorang wartawan yang karena tidak mendapatkan objek menarik memilih memotret akuarium yang ada di stasiun. Foto "wartawan memotret" itu pun dia beri teks begini: Tidak ada objek foto, wartawan pun memotret akuarium!
Seorang penumpang jurusan Malang, yang sehari sebelumnya ikut upacara HUT Kemerdekaan RI di kantornya, mengirimkan SMS ke saya: Seumur hidup mudik Lebaran, baru Lebaran tahun ini saya merasakan kemerdekaan!
Tentu saya merasa tidak layak mendapat SMS pujian setinggi langit seperti itu. SMS itu pun segera saya"forward"ke Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Ignasius Jonan. Jonan-lah (serta seluruh jajaran direksi dan karyawan kereta api) yang lebih berhak mendapat pujian itu.
Banyak sekali SMS dengan nada yang sama. Semua saya forward"ke Jonan. Pak Dirut pun menyebarkannya ke seluruh jajaran kereta api di bawahnya.
Keesokan harinya, memang terlihat tidak satu pun koran memuat foto utama mengenai keruwetan di stasiun kereta api. Harian Kompas bahkan menurunkan tulisan panjang di halaman depan: memberikan pujian yang luar biasa atas kinerja kereta api tahun ini. Banyak pembaca mengirimkan versi online tulisan di Kompas itu ke e-mail saya, khawatir saya tidak membacanya.
Tentu saya sudah membacanya. Dan meski saya pun tahu bahwa Jonan pasti sudah pula membacanya, tetap saja saya e-mail-kan juga kepadanya. Beberapa hari kemudian, Kompas kembali mengapresiasi kerja keras itu. Sosok Jonan, ahli keuangan lulusan Harvard, USA, itu, ditampilkan nyaris setengah halaman.
Di hari yang sama, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Tulus Abadi menulis artikel panjang di Suara Pembaruan: juga memuji perbaikan layanan KAI belakangan ini.
Membenahi kereta api, saya tahu, bukan perkara yang mudah. Jonan sendiri sebenarnya "kurang waras". Betapa enak dia jadi eksekutif bank Amerika, Citi, dengan ruang AC dan fasilitas yang menggiurkan. Di BUMN, awalnya dia memimpin BUMN jasa keuan gan PT Bahana. Kini dia pilih berpanas-panas naik KA dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Dekat dan jauh. Besar dan kecil. Dia benahi satu per satu. Mulai layanan, kebersihan, hingga perkara-perkara teknis.
Padahal, membenahi kereta api itu musuhnya banyak dan lengkap: luar, dalam, atas, bawah, kiri, kanan, muka, belakang. Bahkan, kanan luar dan kiri luar. Kanan dalam dan kiri dalam. Bisa saja terjadi, gawangnya jebol bukan karena hebatnya serangan bola dari musuh, tapi karena barisan belakang kereta apinya yang bikin gol sendiri.
Tapi, sorak-sorai "suporter" yang menginginkan kereta api terus bisa mencetak gol tidak henti-hentinya bergema. Para penyerang di barisan depan kereta api pun tidak lelah-lelahnya membuat gol. Membuat gol sekali, kebobolan gol sekali. Membuat lagi gol dua kali, kebobolan gol lagi sekali. Tapi, untuk gol-gol berikutnya, lebih banyak yang dibuat daripada yang masuk ke gawang sendiri.
Jonan sebagai kapten tim kereta api terus memberi umpan ke depan sambil lari ke muka dan ke belakang. Untung, badannya kecil dan kurus sehingga larinya lincah. Untung, gizinya baik sehingga tidak perlu minggir untuk minum. Untung (meski si kapten kadang main kayu dan nada teriaknya kasar), wasitnya tidak melihat atau pura-pura tidak melihat.
Kalau saja timnya tidak bisa bikin banyak gol, pastilah dia sudah terkena kartu merah: baik karena"tackling-nya yang keras maupun teriakan-teriakannya yang sering melanggar etika bermain bola.
Saya tahu bahwa Jonan orang yang tegas, lurus, dan agak kosro (saya tidak akan menerjemahkan bahasa Surabaya yang satu itu karena Jonan adalah arek Suroboyo). Tapi, dalam periode sekarang ini kereta api memang memerlukan komandan seperti itu. Saya kagum dengan Menteri BUMN Sofyan Djalil, kok dulu bisa menemukan orang unik seperti Jonan.
Untuk menggambarkan secara jelas sosok orang yang satu itu, moto majalah Tempo enak dibaca dan perlu bisa dikutip, tapi harus dimodifikasi sedikit: "menyebalkan dilihat dan perlu".
Tapi, kereta api memang memerlukan orang yang "menyebalkan" seperti Jonan. Dia menyebalkan seluruh perokok karena sejak awal tahun ini melarang merokok di kereta api. Bahkan di kelas ekonomi yang tidak ber-AC sekalipun! Bayangkan betapa besar gejolak dan resistansi yang timbul. Sesekali Jonan hanya kirim SMS ke saya. "Pak Dis, ini diteruskan atau tidak?" Jawaban saya pun biasanya pendek saja: Teruuuuus!
Tidak lama kemudian, dia pun mengeluarkan kebijakan yang sangat sensitif: Tidak boleh ada asongan yang berjualan dengan cara masuk ke gerbong-gerbong kereta api. Belum lagi reaksi reda, muncul instruksi Bapak Presiden agar kiri-kanan jalan kereta api ditertibkan. Itu sungguh pekerjaan yang berat. Dan makan perasaan. Lahir dan batin. Tapi, Jonan dengan cara dan kiat-kiatnya bisa melaksanakan instruksi tersebut dengan, tumben he he, agak bijak.
Gol demi gol terus dia ciptakan. Dia keluarkan lagi kebijakan ini: Tiap penumpang harus mendapat tempat duduk. Termasuk penumpang kelas ekonomi. Itu berarti penjualan karcis harus sama dengan jumlah tempat duduk. Tidak boleh lagi ada penumpang yang berdiri.
Banyak orang yang dulu hobi berdiri di pintu KA (seperti kebiasaan saya di masa remaja) yang tidak bisa lagi meneruskan hobi itu. Reaksi keras atas kebijakannya itu sungguh luar biasa.
Mengapa?
Kebijakannya kali ini ibarat belati yang langsung mengenai ulu hati orang dalam sendiri. Di sinilah tantangan terberat Jonan. Tidak lagi dari luar atau dari penumpang, melainkan dari jaringan ilegal orang dalam sendiri. Jaringan yang sudah turun-temurun, menggurita, beranak pinak, dan kait-mengait.
Marahnya orang luar bisa dilihat, tapi dendamnya orang dalam bisa seperti musuh dalam selimut: bisa mencubit sambil memeluk. Orang Surabaya sering mengistilahkannya dengan hoping ciak kuping: sahabat yang menggigit telinga.
Peristiwa karcis ganda, penumpang tidak dapat tempat duduk, harga karcis yang jauh di atas tarif, kursi kosong yang dibilang penuh, dan ketidaknyamanan lain, pada dasarnya, ujung-ujungnya adalah permainan jaringan yang sudah menggurita itu.
Berbagai cara untuk menyelesaikannya selalu gagal. Spanduk "berantas calo!", "tangkap calo!","dan sebangsanya sama sekali tidak ada artinya. Seruan seperti itu hanyalah omong kosong. Jonan tahu: Teknologilah jalan keluarnya.
Tapi, juga harus ada yang menjalankan teknologi. Dan yang menjalankannya harus juga manusia. Dan yang namanya manusia, apalagi manusia yang lagi marah, ngambek, jengkel, dan dendam, bisa saja membuat teknologi tidak berfungsi.
Tapi, Jonan sudah menaikkan gaji karyawannya. Sudah memperbaiki kesejahteraan stafnya.
Seperti juga terbukti di PLN, orang-orang yang mengganggu di sebuah organisasi sebenarnya tidaklah banyak. Hanya sekitar 10 persen. Yang terbanyak tetap saja orang yang sebenarnya baik. Yang mayoritas mutlak tetaplah yang menginginkan perusahaannya atau negaranya baik.
Hanya, mereka memerlukan pemimpin yang baik. Bukan pemimpin yang justru membuat perusahaannya bobrok. Bukan juga pemimpin yang justru menyingkirkan orang-orang yang baik. Jonan yang sudah meninggalkan kedudukan tingginya di bank asing itu bisa menjadi pemimpin yang tabah, tangguh, dan sedikit ndablek.
Di PT Kereta Api Indonesia pun sama: Mayoritas karyawan sebenarnya menginginkan kereta api berkembang baik dan maju. Buktinya, langkah-langkah perbaikan yang digebrakkan manajemen akhirnya bisa dijalankan oleh seluruh jajarannya.
Bahwa ada hambatan dan kesulitan di sana-sini, itu adalah konsekuensi dari sebuah organisasi yang besar, yang kadang memang tidak lincah untuk berubah. Tapi, organisasi besar KAI dengan karyawan 20.000 orang ternyata bisa berubah relatif cepat.
Transformasi di PT KAI sungguh pelajaran yang amat berharga bagi khazanah manajemen di Indonesia. Lebaran tahun 2012 ini harus dicatat dalam sejarah percaloan di Indonesia.
Inilah sejarah di mana tidak ada lagi calo tiket kereta api. Semua orang bisa membeli tiket dari jauh: dari rumahnya dan dari ratusan outlet minimarket di mana pun berada. Orang bisa membeli tiket kapan pun untuk pemakaian kapan pun. Orang pun bisa melihat di komputer masing-masing tentang kursi mana yang masih kosong dan kursi mana yang diinginkan. Orang juga bisa melihat kereta yang mereka tunggu sedang berada di stasiun mana dan kereta itu akan tiba berapa menit lagi.
Naik kereta api juga harus menggunakan boarding pass. Setiap penumpang akan diperiksa apakah nama yang tertera di tiket sama dengan nama yang ada pada ID si penumpang. Dengan cara itu, bukan saja orang tanpa tiket tidak bisa masuk kereta, yang dengan tiket pun akan ditolak kalau namanya berbeda. Persis dengan naik pesawat.
Cara tersebut memang praktis tidak memberikan peluang bagi calo untuk beroperasi. Tapi, jasa membelikan tiket bisa saja tetap hidup, bahkan berkembang dengan legal.
Dengan gebrakan terakhir itu, jumlah penumpang kereta api menurun. Tapi, anehnya, dalam keadaan jumlah penumpang menurun, penghasilan kereta api naik 110 persen!
Tentu masih banyak yang harus dilakukan. Program kereta ekonomi ber-AC, tempat turun penumpang yang kadang masih di luar peron (sehingga harus loncat dan terjatuh), membuat kereta lebih bersih lagi, mengurangi kerusakan, mempercantik stasiun, dan menata lingkungan di sekitar stasiun adalah pekerjaan yang juga tidak mudah.
Toilet-toilet juga akan banyak diubah dari toilet jongkok menjadi toilet duduk. Selama ini, wanita yang mengenakan celana jins mengalami kesulitan dengan toilet jongkok. Gaya hidup penumpang kereta memang sudah banyak berubah sehingga pengelola kereta juga harus menyesuaikan diri.
Kini banyak sekali penumpang yang merasa nyaman di KA: Charger HP sudah tersedia di semua kursi. Kompor gas di kereta makan tidak ada lagi. Toilet-toilet di stasiun sudah lebih bersih (bahkan di beberapa stasiun sudah lebih bersih daripada toilet di bandara).
Perbaikan manajemen itu akan mencapai puncaknya 18 bulan lagi: saat jalur ganda kereta api Jakarta-Surabaya selesai dibangun. Pada pertengahan 2014 itu, di jalur Jakarta-Surabaya memang belum ada Shinkansen, tapi harapan baru kereta yang lebih baik sudah di depan mata! (*)
Dahlan Iskan
Menteri BUMN
Sumber: http://www.jpnn.com/read/2012/09/03/138397/Tidak-Ada-Bayi-Tergencet,-Akuarium-pun-Jadi-
Menjelang Lebaran tahun ini, objek-objek yang "seksi" di mata wartawan foto itu tiba-tiba lenyap bak ditelan bumi. Tidak ada lagi desakan, impitan, gencetan, dan jenis penderitaan lain yang menarik untuk difoto. Para wartawan pun banyak yang terlihat duduk hanya menunggu momentum. Dan yang ditunggu tidak kunjung terlihat.
Maka, dengan isengnya, seorang petugas stasiun mengirimkan foto ke HP saya. Rupanya, dia baru saja memotret kejadian yang menarik: Seorang wartawan yang karena tidak mendapatkan objek menarik memilih memotret akuarium yang ada di stasiun. Foto "wartawan memotret" itu pun dia beri teks begini: Tidak ada objek foto, wartawan pun memotret akuarium!
Seorang penumpang jurusan Malang, yang sehari sebelumnya ikut upacara HUT Kemerdekaan RI di kantornya, mengirimkan SMS ke saya: Seumur hidup mudik Lebaran, baru Lebaran tahun ini saya merasakan kemerdekaan!
Tentu saya merasa tidak layak mendapat SMS pujian setinggi langit seperti itu. SMS itu pun segera saya"forward"ke Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Ignasius Jonan. Jonan-lah (serta seluruh jajaran direksi dan karyawan kereta api) yang lebih berhak mendapat pujian itu.
Banyak sekali SMS dengan nada yang sama. Semua saya forward"ke Jonan. Pak Dirut pun menyebarkannya ke seluruh jajaran kereta api di bawahnya.
Keesokan harinya, memang terlihat tidak satu pun koran memuat foto utama mengenai keruwetan di stasiun kereta api. Harian Kompas bahkan menurunkan tulisan panjang di halaman depan: memberikan pujian yang luar biasa atas kinerja kereta api tahun ini. Banyak pembaca mengirimkan versi online tulisan di Kompas itu ke e-mail saya, khawatir saya tidak membacanya.
Tentu saya sudah membacanya. Dan meski saya pun tahu bahwa Jonan pasti sudah pula membacanya, tetap saja saya e-mail-kan juga kepadanya. Beberapa hari kemudian, Kompas kembali mengapresiasi kerja keras itu. Sosok Jonan, ahli keuangan lulusan Harvard, USA, itu, ditampilkan nyaris setengah halaman.
Di hari yang sama, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Tulus Abadi menulis artikel panjang di Suara Pembaruan: juga memuji perbaikan layanan KAI belakangan ini.
Membenahi kereta api, saya tahu, bukan perkara yang mudah. Jonan sendiri sebenarnya "kurang waras". Betapa enak dia jadi eksekutif bank Amerika, Citi, dengan ruang AC dan fasilitas yang menggiurkan. Di BUMN, awalnya dia memimpin BUMN jasa keuan gan PT Bahana. Kini dia pilih berpanas-panas naik KA dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Dekat dan jauh. Besar dan kecil. Dia benahi satu per satu. Mulai layanan, kebersihan, hingga perkara-perkara teknis.
Padahal, membenahi kereta api itu musuhnya banyak dan lengkap: luar, dalam, atas, bawah, kiri, kanan, muka, belakang. Bahkan, kanan luar dan kiri luar. Kanan dalam dan kiri dalam. Bisa saja terjadi, gawangnya jebol bukan karena hebatnya serangan bola dari musuh, tapi karena barisan belakang kereta apinya yang bikin gol sendiri.
Tapi, sorak-sorai "suporter" yang menginginkan kereta api terus bisa mencetak gol tidak henti-hentinya bergema. Para penyerang di barisan depan kereta api pun tidak lelah-lelahnya membuat gol. Membuat gol sekali, kebobolan gol sekali. Membuat lagi gol dua kali, kebobolan gol lagi sekali. Tapi, untuk gol-gol berikutnya, lebih banyak yang dibuat daripada yang masuk ke gawang sendiri.
Jonan sebagai kapten tim kereta api terus memberi umpan ke depan sambil lari ke muka dan ke belakang. Untung, badannya kecil dan kurus sehingga larinya lincah. Untung, gizinya baik sehingga tidak perlu minggir untuk minum. Untung (meski si kapten kadang main kayu dan nada teriaknya kasar), wasitnya tidak melihat atau pura-pura tidak melihat.
Kalau saja timnya tidak bisa bikin banyak gol, pastilah dia sudah terkena kartu merah: baik karena"tackling-nya yang keras maupun teriakan-teriakannya yang sering melanggar etika bermain bola.
Saya tahu bahwa Jonan orang yang tegas, lurus, dan agak kosro (saya tidak akan menerjemahkan bahasa Surabaya yang satu itu karena Jonan adalah arek Suroboyo). Tapi, dalam periode sekarang ini kereta api memang memerlukan komandan seperti itu. Saya kagum dengan Menteri BUMN Sofyan Djalil, kok dulu bisa menemukan orang unik seperti Jonan.
Untuk menggambarkan secara jelas sosok orang yang satu itu, moto majalah Tempo enak dibaca dan perlu bisa dikutip, tapi harus dimodifikasi sedikit: "menyebalkan dilihat dan perlu".
Tapi, kereta api memang memerlukan orang yang "menyebalkan" seperti Jonan. Dia menyebalkan seluruh perokok karena sejak awal tahun ini melarang merokok di kereta api. Bahkan di kelas ekonomi yang tidak ber-AC sekalipun! Bayangkan betapa besar gejolak dan resistansi yang timbul. Sesekali Jonan hanya kirim SMS ke saya. "Pak Dis, ini diteruskan atau tidak?" Jawaban saya pun biasanya pendek saja: Teruuuuus!
Tidak lama kemudian, dia pun mengeluarkan kebijakan yang sangat sensitif: Tidak boleh ada asongan yang berjualan dengan cara masuk ke gerbong-gerbong kereta api. Belum lagi reaksi reda, muncul instruksi Bapak Presiden agar kiri-kanan jalan kereta api ditertibkan. Itu sungguh pekerjaan yang berat. Dan makan perasaan. Lahir dan batin. Tapi, Jonan dengan cara dan kiat-kiatnya bisa melaksanakan instruksi tersebut dengan, tumben he he, agak bijak.
Gol demi gol terus dia ciptakan. Dia keluarkan lagi kebijakan ini: Tiap penumpang harus mendapat tempat duduk. Termasuk penumpang kelas ekonomi. Itu berarti penjualan karcis harus sama dengan jumlah tempat duduk. Tidak boleh lagi ada penumpang yang berdiri.
Banyak orang yang dulu hobi berdiri di pintu KA (seperti kebiasaan saya di masa remaja) yang tidak bisa lagi meneruskan hobi itu. Reaksi keras atas kebijakannya itu sungguh luar biasa.
Mengapa?
Kebijakannya kali ini ibarat belati yang langsung mengenai ulu hati orang dalam sendiri. Di sinilah tantangan terberat Jonan. Tidak lagi dari luar atau dari penumpang, melainkan dari jaringan ilegal orang dalam sendiri. Jaringan yang sudah turun-temurun, menggurita, beranak pinak, dan kait-mengait.
Marahnya orang luar bisa dilihat, tapi dendamnya orang dalam bisa seperti musuh dalam selimut: bisa mencubit sambil memeluk. Orang Surabaya sering mengistilahkannya dengan hoping ciak kuping: sahabat yang menggigit telinga.
Peristiwa karcis ganda, penumpang tidak dapat tempat duduk, harga karcis yang jauh di atas tarif, kursi kosong yang dibilang penuh, dan ketidaknyamanan lain, pada dasarnya, ujung-ujungnya adalah permainan jaringan yang sudah menggurita itu.
Berbagai cara untuk menyelesaikannya selalu gagal. Spanduk "berantas calo!", "tangkap calo!","dan sebangsanya sama sekali tidak ada artinya. Seruan seperti itu hanyalah omong kosong. Jonan tahu: Teknologilah jalan keluarnya.
Tapi, juga harus ada yang menjalankan teknologi. Dan yang menjalankannya harus juga manusia. Dan yang namanya manusia, apalagi manusia yang lagi marah, ngambek, jengkel, dan dendam, bisa saja membuat teknologi tidak berfungsi.
Tapi, Jonan sudah menaikkan gaji karyawannya. Sudah memperbaiki kesejahteraan stafnya.
Seperti juga terbukti di PLN, orang-orang yang mengganggu di sebuah organisasi sebenarnya tidaklah banyak. Hanya sekitar 10 persen. Yang terbanyak tetap saja orang yang sebenarnya baik. Yang mayoritas mutlak tetaplah yang menginginkan perusahaannya atau negaranya baik.
Hanya, mereka memerlukan pemimpin yang baik. Bukan pemimpin yang justru membuat perusahaannya bobrok. Bukan juga pemimpin yang justru menyingkirkan orang-orang yang baik. Jonan yang sudah meninggalkan kedudukan tingginya di bank asing itu bisa menjadi pemimpin yang tabah, tangguh, dan sedikit ndablek.
Di PT Kereta Api Indonesia pun sama: Mayoritas karyawan sebenarnya menginginkan kereta api berkembang baik dan maju. Buktinya, langkah-langkah perbaikan yang digebrakkan manajemen akhirnya bisa dijalankan oleh seluruh jajarannya.
Bahwa ada hambatan dan kesulitan di sana-sini, itu adalah konsekuensi dari sebuah organisasi yang besar, yang kadang memang tidak lincah untuk berubah. Tapi, organisasi besar KAI dengan karyawan 20.000 orang ternyata bisa berubah relatif cepat.
Transformasi di PT KAI sungguh pelajaran yang amat berharga bagi khazanah manajemen di Indonesia. Lebaran tahun 2012 ini harus dicatat dalam sejarah percaloan di Indonesia.
Inilah sejarah di mana tidak ada lagi calo tiket kereta api. Semua orang bisa membeli tiket dari jauh: dari rumahnya dan dari ratusan outlet minimarket di mana pun berada. Orang bisa membeli tiket kapan pun untuk pemakaian kapan pun. Orang pun bisa melihat di komputer masing-masing tentang kursi mana yang masih kosong dan kursi mana yang diinginkan. Orang juga bisa melihat kereta yang mereka tunggu sedang berada di stasiun mana dan kereta itu akan tiba berapa menit lagi.
Naik kereta api juga harus menggunakan boarding pass. Setiap penumpang akan diperiksa apakah nama yang tertera di tiket sama dengan nama yang ada pada ID si penumpang. Dengan cara itu, bukan saja orang tanpa tiket tidak bisa masuk kereta, yang dengan tiket pun akan ditolak kalau namanya berbeda. Persis dengan naik pesawat.
Cara tersebut memang praktis tidak memberikan peluang bagi calo untuk beroperasi. Tapi, jasa membelikan tiket bisa saja tetap hidup, bahkan berkembang dengan legal.
Dengan gebrakan terakhir itu, jumlah penumpang kereta api menurun. Tapi, anehnya, dalam keadaan jumlah penumpang menurun, penghasilan kereta api naik 110 persen!
Tentu masih banyak yang harus dilakukan. Program kereta ekonomi ber-AC, tempat turun penumpang yang kadang masih di luar peron (sehingga harus loncat dan terjatuh), membuat kereta lebih bersih lagi, mengurangi kerusakan, mempercantik stasiun, dan menata lingkungan di sekitar stasiun adalah pekerjaan yang juga tidak mudah.
Toilet-toilet juga akan banyak diubah dari toilet jongkok menjadi toilet duduk. Selama ini, wanita yang mengenakan celana jins mengalami kesulitan dengan toilet jongkok. Gaya hidup penumpang kereta memang sudah banyak berubah sehingga pengelola kereta juga harus menyesuaikan diri.
Kini banyak sekali penumpang yang merasa nyaman di KA: Charger HP sudah tersedia di semua kursi. Kompor gas di kereta makan tidak ada lagi. Toilet-toilet di stasiun sudah lebih bersih (bahkan di beberapa stasiun sudah lebih bersih daripada toilet di bandara).
Perbaikan manajemen itu akan mencapai puncaknya 18 bulan lagi: saat jalur ganda kereta api Jakarta-Surabaya selesai dibangun. Pada pertengahan 2014 itu, di jalur Jakarta-Surabaya memang belum ada Shinkansen, tapi harapan baru kereta yang lebih baik sudah di depan mata! (*)
Dahlan Iskan
Menteri BUMN
Sumber: http://www.jpnn.com/read/2012/09/03/138397/Tidak-Ada-Bayi-Tergencet,-Akuarium-pun-Jadi-
Selasa, 21 Agustus 2012
Sekeranjang Apel
Kiriman : Wayan Mustika
Buat sahabatku,
Seorang ibu sedang memilih apel dalam keranjang bambu di sebuah pasar.
Ia menyisihkan apel-apel yang busuk untuk mendapatkan beberapa yang segar.
Di antara yang segar ia memilih lagi yang matang.
Di antara yang matang ia mengembalikan yang kecil ke dalam keranjang untuk mengumpulkan yang besar-besar.
Terakhir, ia pun tawar menawar untuk mendapatkan apel yang termurah di antara apel-apel besar tadi.
Seorang ibu selalu memilih yang terbaik dari apel yang ada karena itu akan menjadi miliknya untuk dimakan dan menjadi unsur pembentuk tubuhnya.
Mayoritas orang tampaknya mirip seperti ibu tadi dalam memilih apa yang menjadi barang miliknya.
Apalagi untuk sesuatu yang hendak menjadi bagian dari tubuh kita yang masuk melalui makanan.
Tidak banyak orang yang mau menderita sakit karena hukuman atau sesuatu yang ada dalam makanan yang busuk atau tidak sehat. Inilah sifat alami yang wajar pada siapa saja; memilih yang terbaik.
Sayangnya tidak seperti saat memilih yang terbaik sebagai makanan atau minuman bagi tubuh. Kebanyakan kita tidak demikian tatkala memilih hal-hal dalam kehidupan sehari-hari untuk disimpan sebagai ‘makanan’ bagi pikiran.
Bila saja cermat mengamati diri , betapa dalam keseharian ternyata kita lebih banyak menyerap hal-hal negatif untuk menjadi bahan-bahan yang akan membangun pikiran kita. Kemarahan, kebencian, isu dan fitnah, dendam, iri hati, dan sejenisnya. Tanpa sadar kita sedang menyerap virus akal budi ke dalam pikiran yang nantinya akan membangun seluruh sel tubuh kita.
Dan sudah menjadi rumusan bahwa setiap bahan yang terkumpul akan membentuk apa yang pantas terbentuk. Dengan kumpulan bahan-bahan negatif seperti tadi, nyatalah bahwa harapan agar bisa memiliki kedamaian, kebahagiaan, ketenangan, kesuksesan dan sejenisnya dalam kehidupan akan sulit tercapai.
Seperti berharap dapat makan nasi goreng, tetapi yang dikumpulkan adalah buah-buahan, es, susu, kolang kaling, dan sejenisnya. Mustahil.
Kelemahan terbesar dalam kehidupan ini yang paling sering membawa kita pada kegagalan adalah sifat tidak konsisten.
Seperti tadi, untuk memilih makanan tubuh kita mencari yang terbaik, namun untuk ‘makanan’ bagi pikiran kita justru lebih gemar memilih yang terburuk. Rupanya ini menjadi alasan ada banyak orang kaya yang tubuhnya sehat karena bisa memilih makanan sehat, tetapi batinnya sakit karena gagal memilih hal -hal yang baik bagi pikirannya. Begitu sebaliknya ada orang-orang miskin bersahaja yang sehat lahir dan batin karena bisa memilih segala yang terbaik bagi tubuh dan pikirannya, sekalipun itu sederhana.
Kehidupan duniawi ini seperti pasar. Ramai dan padat oleh berbagai pilihan hidup, dipenuhi berbagai aktivitas yang penting bagi kelangsungan hidup, sekaligus juga banyak hal negatif di dalamnya. Kadang ada pemalak dan pencopet, ada sampah, kecoa dan tikus, ada aroma amis dan busuk, ada senyum sinis, ada kemarahan, dan sebagainya. Begitu riuh oleh warna-warni kehidupan yang harus dipilih dengan sangat hati-hati. Siapa saja yang pernah bersentuhan dengan kehidupan pasar, mengerti bahwa dibutuhkan cukup latihan untuk bisa memilih dan menawar hal terbaik untuk dibawa pulang bagi keluarga.
Berbagai peristiwa dalam kehidupan ini mirip juga sekeranjang apel.
Mereka menjadi bahan-bahan yang akan menentukan seperti apa kehidupan yang kita miliki. Pun demikian diri setiap orang yang kita temui sehari-hari di kehidupan sosial. Dalam diri mereka terdapat sekeranjang sifat yang tercampur antara sifat kebaikan dan keburukan. Tanpa bermaksud mencemooh sifat-sifat negatif yang pada dasarnya dimiliki setiap orang, kita hanya perlu memilih sifat terbaik pada orang itu yang layak di teladani.
Memilih dan meneladan sifat-sifat baik yang ada pada diri seseorang untuk dijadikan bagian dari sifat-sifat baik kita, tak bisa dipungkiri akan memberi banyak kebaikan bagi kita.
Namun sebagaimana hal nya memilih apel terbaik di antara sekeranjang apel, tentu memilih kebaikan orang seseorang juga memerlukan latihan. Faktanya, kebanyakan kita lebih mudah melihat dan menilai keburukan orang lain, lalu mencemooh bahkan menghujat mereka atas keburukan itu. Seakan lupa bahwa kita pun tak luput dari keburukan serupa.
Mengenali keburukan atau kesalahan orang memang bukan hal yang mutlak keliru. Namun, mencemooh dan menghujat sisi negatif itu bukan pula tindakan produktif.
Bahkan, kedua sikap seperti ini justru membuat kita tergiring melakukan suatu keburukan yang lain. Kita memang perlu mengetahui untuk dapat menhindarinya agar tidak menjadi perilaku yang sama dalam keseharian kita.
Bagi yang bijak, kesalahan, keburukan, atau kekeliruan seseorang dapat dijadikan guru yang akan memberi contoh tentang hal-hal yang layak dihindari. Inilah cara belajar menjadi baik tanpa perlu mencemooh atau menghujat keburukan. Mengenali apel busuk untuk tidak memilihnya.
Langganan:
Postingan (Atom)

